Mengutamakan Kepentingan Umum Sebuah Pembenaran

Mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongan yang sering diajarkan ketika di bangku sekolah SD, SMP, SMA masih tetap terlintas di ingatan.


Bagaimana tidak, guru yang membawakan mata pelajaran yang berkaitan dengan materi tersebut adalah guru favorit saya. Setiap pelajaran yang disampaikannya selalu mendapat tempat dalam pikiran dan perasaan. Mungkin ada juga diantara teman-teman sekelas yang juga demikian. Karena pada dasarnya guru tersebut mengajarkan dengan metode yang menyenangkan.

Setelah sekian lama berjalan, moto tersebut selalu menjadi bahan pertimbangan dan analisa ketika menjalani kehidupan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Sebagai makhluk berakal, menjalani kehidupan semakin lama semakin panjang perjalanan dan fenomena dunia semakin luas terlihat, pikiran pun mulai berdiskusi dengan kenyataan. Dari kehidupan tersebut bermunculan berbagai pertanyaan dan kenyataan.

Mengutamakan Kepentingan Umum
Mengutamakan Kepentingan Umum?

Seorang pemimpin rela meninggalkan istana dan anak istrinya demi mengunjungi masyarakat yang tertimpa bencana, itu tugas dan tanggungjawab sebagai pimpinan yang penuh harapan memiliki predikat "perhatian" dalam kepemimpinannya.

Seorang politikus mengeluarkan biaya, membantu fakir-miskin dan kelompok-kelompok tertentu berharap mendapat simpati.

Seseorang mematuhi peraturan agar dirinya tidak terjerat hukum dan terhindar dari celaka.

Ilmuwan membagikan ilmunya, digunakan untuk umum berharap namanya dikenang dan jadi ladang amal di kemudian hari.

Seseorang ulama berdakwah berharap mendapat ridha Allah untuknya.

Pertanyaannya, adakah kegiatan-kegiatan yang tidak dilatarbelakangi kepentingan pribadi?

Yang aneh, sebuah keluarga miskin, berpenghasilan dari hasil bertani diminta mengikhlaskan sebidang tanah perkebunan miliknya untuk dijadikan lahan pembangunan fasilitas umum. Sebuah keluarga tukang ojek diminta merelakan sebidang tanah perumahan miliknya demi pembangunan jalan raya untuk umum.

Apakah tidak aneh? Bagaimana kalau para konglomerat dan para pejabat berdasi yang saling bantu membayar tanah para petani dan tukang ojek tersebut untuk dijadikan pembangunan sarana umum? Adakah yang demikian? Kalaupun ada, itu semua bukan demi mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongan melainkan rasa belas kasihan pada si miskin, atau bahkan demi mendapat popularitas dan lainnya. Lebih halus lagi, berbagi kepada orang tidak mampu demi mendapat ridha dan berkah dari Allah.

Adakah yang berdasar pada kepentingan umum tanpa didasari pada kepentingan pribadi atau golongan? Tidak. Baik nyata maupun maya, semua itu didasari dari kepentingan individu.

Agama mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing individu. Sehingga, setiap perbuatan akan dipertimbangkan berdasarkan kepentingan individu. Melaksanakan sesuatu demi kepentingan umum bermuara dari kepentingan individu. Harapannya adalah tindakan tidak dilandasi ego individu yang akan berdampak negatif pada kehidupan sosial kemasyarakatan.

Lalu, mengapa begitu gencarnya alasan mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi?

Saya berasumsi bahwa semua itu adalah "pembenaran yang terstruktur" demi memuluskan visi dan misi kelompok tertentu. Ego individu dan kelompok mendominasi sehingga tidak mengenal belas kasihan. Yang kaya semena-mena, si miskin melarat. Yang pintar berkuasa, si miskin tertindas.

Saya percaya bahwa para pembaca Suara Hati yang sedang membaca tulisan ini tidak seperti kenyataan tersebut diatas. Namun satu hal yang saya inginkan, tanya kepada diri kita masing-masing. Adakah kita berbuat tanpa memikirkan dampak pada diri kita terlebih dahulu? Berikan komentar anda pada kolom komentar di bawah.

Semoga tulisan ini dapat menambah informasi untuk kita semua.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mengutamakan Kepentingan Umum Sebuah Pembenaran"

Posting Komentar

Terima Kasih untuk Kesempatan dan Kesediaan Anda Memberikan Tanggapan Melalui Kolom Komentar yang Tersedia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel