Permasalahan Akibat Pergantian dan Hubungan Tidak Harmonis Antar Atasan

Permasalahan akibat pergantian dan hubungan yang tidak harmonis antara atasan sering terjadi di suatu lingkungan pekerjaan. Baik itu korban waktu, tenaga maupun korban perasaan. Hal ini sering kita temukan dalam sebuah lingkungan pekerjaan yang memiliki tingkat persaingan yang tidak terkendali. Apalagi jika atasan yang saling mempertahankan ego masing-masing atas dasar suatu kepentingan.

Cerita berikut ini merupakan curahan hati (curhat) dari seseorang yang namanya kami ganti atau menggunakan nama samaran karena pertimbangan privasi. Katakanlah cerita ini terjadi pada seseorang yang bernama Anto.

Anto adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di Puskesmas pada salah satu kabupaten. Dia masih terbilang pegawai baru atau masih junior. Namun tidak dipungkiri bahwa terkadang Anto membantu pekerjaan atasan yang tidak bisa mereka selesaikan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini ada aturan yang mewajibkan suatu puskesmas untuk di akreditasi. Dalam realisasinya, aturan tersebut menjadi tanggungjawab berbagai pihak. Baik puskesmas itu sendiri maupun Dinas Kesehatan.

Sebelum adanya penganggaran di Dinas Kesehatan, seorang kepala seksi yang bertanggungjawab atas pengusulan dan perancangan akreditasi puskesmas di kabupaten tersebut beberapa kali meminta bantuan kepada Anto dalam pekerjaannya, termasuk menyusun road map, membuat RUK akreditasi puskesmas dan lainnya. Hingga suatu saat ada pemanggilan peserta pelatihan tim pendamping akreditasi, Kepala seksi tersebut mengajak Anto untuk menjadi salah satu peserta pelatihan. Kejadian ini terjadi pada tahun 2016.

Perlu pembaca ketahui, sebelum Anto mengikuti pelatihan tersebut, tahun sebelumnya telah ada 3 (tiga) pegawai lain yang telah mengikuti pelatihan tersebut. Namun, entah apa sebabnya ketika penyusunan rencana kegiatan akreditasi orang-orang tersebut tidak terlibat.

Ketika awal tahun 2017, RKA akreditasi diterbitkan dan telah diterima di Dinas Kesehatan. Persiapan pelaksanaan pendampingan akreditasi pun belum ada tanda-tanda dilaksanakan dan pada saat itu ketika ada pelantikan, terjadi penggantian kepala seksi. Nampak jelas terjadi kerenggangan antara kedua figur tersebut. Beberapa masalah bermunculan akibat hal tersebut.

Setelah berjalan beberapa minggu, Dinas Kesehatan Provinsi memanggil lagi peserta pelatihan pendamping akreditasi puskesmas. Kepala Seksi yang baru mendatangi Anto dan memintanya agar ikut lagi dalam pelatihan tersebut bersamanya walaupun dia tahu bahwa Anto sudah pernah mengikuti kegiatan tersebut.

Anto menjawab ajakan tersebut bahwa dia telah pernah mengikuti, bukankah masih ada orang lain yang bisa di ajak? Kepala seksi tersebut tetap bersikeras untuk mengajak Anto. Akhirnya Anto mengikuti permintaannya dengan catatan jika ada yang komplain maka Anto tidak mau bertanggungjawab dan ini menjadi tanggungjawab Kepala Seksi tersebut. Menurut Anto, secara pribadi dia suka dengan kegiatan tersebut untuk lebih menambah atau menyegarkan kembali pengetahuannya tentang akreditasi puskesmas. Maka berangkatlah mereka mengikuti pelatihan tersebut.

Setelah pelatihan tersebut selesai, mereka kembali ke daerah. Anto kembali melaksanakan tugasnya sebagai pegawai puskesmas sambil menunggu panggilan persiapan akreditasi yang telah direncanakan dengan segala persiapan biaya yang ada di RKA.

Setelah beberapa minggu, belum juga ada tanda-tanda pelaksanaan walaupun Anto juga telah pernah menyampaikan kepada kepala dinas tentang betapa pentingnya akreditasi dan harus segera dilaksanakan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Anto mendesak kepala seksi untuk segera membuat pertemuan di tingkat dinas untuk persiapan pelaksanaan akreditasi. Kegiatan tersebut pun terlaksana dan dipimpin langsung oleh kepala dinas. Pada saat itu, kepala dinas meminta Anto untuk memberikan penjelasan dan keterangan seputar akreditasi puskesmas.

Melihat keadaan yang ada, kepala dinas meminta untuk beberapa waktu Anto harus melaksanakan tugas di dinas kesehatan membantu pelaksanaan akreditasi. Anto mengikuti perintah, kegiatan pun mulai berjalan.

Selang beberapa minggu, terjadilah pelantikan kepala dinas dan kepala dinas kesehatan tergantikan dengan orang lain lagi. Posisi Kepala Bidang yang dulunya kosong kini dilantik seseorang untuk menempatinya.

Sejak saat itu, berbagai permasalahan mulai bermunculan, diantaranya:

  1. Waktu persiapan akreditasi untuk puskesmas menjadi sangat sempit sehingga membutuhkan kerja ekstra bagi pegawai puskesmas untuk mempersiapkan diri dalam pelaksanaan survey akreditasi yang sudah dijadwalkan.
  2. Kurangnya kepercayaan pengelolaan keuangan yang berdampak pada pelaksanaan pendampingan akreditasi. Berhutang menjadi solusi yang semakin memperlebar ketidakpercayaan.
  3. Terjadi saling intervensi dan saling mencurigai satu sama lain. Anto yang datang mendampingi dan membantu terlaksananya program tersebut juga turut menjadi korban karena hal itu.
  4. Ketidak harmonisan antara kepala bidang dan kepala seksi yang membawahi akreditasi menyebabkan bebarapa tindakan saling menyelamatkan diri dan mencari nama kepada pimpinan.
  5. Sesama tim pendamping akreditasi tidak terjalin komunikasi yang baik. Anto sebagai 'orang tengah' berupaya semaksimal mungkin mempersatukan pendapat mereka masing-masing.
  6. Beberapa tim pendamping tidak melaksanakan pendampingan secara maksimal dengan berbagai alasan.
  7. Pelaksanaan kegiatan berorientasi pada penyelamatan sistem keuangan yang ada walaupun metode itu sendiri yang menghambat proses pelaksanaan kegiatan.
  8. Beberapa kegiatan ditumpukkan pada Anto walaupun sebenarnya bukan menjadi tanggungjawabnya, hanya karena rasa prihatin Anto turut berpartisipasi.
  9. Puncaknya, honor tim pendamping ditahan oleh kepala dinas dengan alasan menunggu evaluasi pelaksanaan kegiatan yang diminta kepada kepala bidang untuk mengatur hal tersebut.


Menurut Anto, masih banyak permasalahan yang masih belum disebutkan. Beberapa permasalahan tersebut hanya beberapa gambaran permasalahan secara umum.

Menurut kami sebagai penulis di Blog Suara Hati, pada kolom curhat ini bertujuan untuk membahas permasalahan yang sekiranya dapat menjadi pelajaran untuk kita semua.

Demikianlah yang dapat kami tuliskan dari apa yang diceritakan oleh Anto, semoga bermanfaat.

Posting Komentar