Meniti Hidup Menanti Ajal

Mengenang masa kanak-kanak terasa baru kemarin. Memikirkan masa depan terasa dunia ini akan segera ditinggalkan. Menjalani hidup setiap hari terasa terlalu lama bagi mereka yang merasa susah dalam hidupnya, namun terlalu cepat bagi mereka yang senang dalam hidupnya. Bagaimana jika kita mengikuti kata uztad bahwa kita hidup penuh rasa syukur agar hidup ini tidak terasa susah?

Memilih hidup di dunia katanya pilihan kita, tapi kita tidak pernah ingat kapan kita memilih untuk terlahir ke dunia. Sebagai orang beriman kita pasti meyakini itu, kita ingin memiliki derajat lebih tinggi dari malaikat. Sebagai orang beriman pula, kita meyakini bahwa Nabi Adam sebagai manusia pertama hadir di muka bumi karena kesalahannya ketika di surga. Beliau ke dunia atas Titah Sang Pencipta. Apakah kita manusia sesudahnya hadir ke dunia karena pilihan kita?

Apapun itu, aku meyakini bahwa hidup di muka bumi ini dengan tugas utama yaitu beribadah kepada Allah. Terlahir ke dunia,  menjalani hidup, mati dan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan perjalanan hidup kita.

Ya Allah... lahir, hidup dan mati-ku semua ku pasrahkan kepadamu. Semua peristiwa terjadi hanya atas Kehendak-Mu.

Aku tak berharap dan meminta yang berlebihan, aku hanya ingin menjalani hidup yang telah engkau gariskan, agar aku dapat hadir di hadapan-Mu dengan hanya berpasrah atas pengadilan-Mu. Aku melangkah atas kehendakmu.

Saat ini aku belum mati, kami belum mati, mereka belum mati, masih di dunia, walaupun lainnya telah mendahului.

Aku masih merasa lapar jika tak makan, masih ada anak-anak yang meminta uang jajan setiap hari. Mata masih melihat disekeliling tubuh, telinga masih mendengar keramaian dunia, hati ini masih saja ada keraguan.

Meniti Hidup Menanti Ajal
Meniti Hidup Menanti Ajal
Di sana ada si kaya dan si miskin, ada si cantik dan si ganteng, ada juga pejabat dan masyarakat. Semuanya menamabah panorama dunia yang pastinya terjadi atas kehendak-Mu.

Melihat si kaya dan si cantik, hati ini tergoda, jika Engkau berkehendak, semuanya bisa saja berlaku bagiku. Sebagian orang berkata, Engkau telah memerintahkan pada kami untuk meminta dan Engakau akan mengabulkannya, tapi apakah layak aku meminta kepada-Mu? Aku berpasrah kepadamu, apa yang layak bagiku.

Semakin berpikir tentang kehidupan dunia, semakin banyak harapan dunia yang tidak akan pernah kami bawa mati. Tapi hati ini terus tergoda.

Wahai para penggoda, sekiranya tugas untuk menggoda adalah tugas yang diberikan Sang Pencipta untuk menggodaku, aku pasrahkan diri hanya kepada Allah. Aku tak dapat berbuat apa-apa kecuali atas kehendak-Nya.

Besok aku harus bekerja, minggu depan aku harus bekerja, bulan depan aku harus bekerja, bahkan tahun depan dan seterusnya aku harus bekerja. Menghidupi anak dan istri yang tak akan dibawa mati, tapi setidaknya mereka adalah amanah yang dititipkan kepadaku.

Tak terasa, hari demi hari berlalu. Masa kanak-kanak berlalu, masa remaja berlalu, memiliki anak dan sampai pada masa tua. Kematian pun dapat datang secara tiba-tiba, jika belum maka dia pasti akan datang.

Sebagian orang berkata: "Nikmati hidup ini, jangan dibuat susah".

Orang lain berkata: "Hadapi hidup ini dengan senyuman".

Yang lain lagi berkata: "Bekerjalah selagi bisa, demi masa depanmu".

Ada juga yang berkata: "Kerjakanlah duniamu seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi, kerjakanlah akhiratmu seakan-akan engkau mati esok".

Saya harus berkata apa???

Saya tidak paham dengan kata-kata tersebut, yang saya tau bahwa saat ini saya hidup, dan suatu saat ajal pasti menjemput. Hidup dan mati dapat terjadi atas kehendak-Nya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Meniti Hidup Menanti Ajal"

Posting Komentar

Terima Kasih untuk Kesempatan dan Kesediaan Anda Memberikan Tanggapan Melalui Kolom Komentar yang Tersedia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel